Bekasi (MI) – Ade Muhamad Nur, SH., MH sebagai seorang advokat kondang di Indonesia yang juga pengamat publik di bidang politik, ormas, budaya dan realigi, sangat prihatin dengan kondisi di tahun 2020 ini, tidak hanya di Indonesia maupun di Dunia.

Sejak mewabahnya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) melanda seluruh pelosok di muka bumi ini, manusia satu persatu tumbang akibat terjangkitnya virus yang mematikan itu, kemudian untuk menghindari bertambahnya korban keluarlah kebijakan Pemerintah untuk tidak melakukan aktifitas dan berkumpul yakni Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), termasuk melakukan ibadah keagamaan seperti sholat berjamaah juga pelaksanaan sholat Idul Fitri.

“Ini suatu sejarah yang belum pernah terjadi di tahun 2020, kita tidak melaksanakan Sholat Idul Fitri sebagaimana pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya, bahkan mungkin juga sejak zaman Rasulullah melaksanakan sholat Ied di tanah lapang mulai tahun 02 hijriah. Tetapi di tahun 1441 hijriah atau tahun 2020 ini tidak melaksanakan sholat Ied,” ujar Ade Muhamad Nur kepada para wartawan Koran Metro Indonesia Online saat wawancara khusus di rumahnya kawasan Bekasi, Jum’at (22/05/2020).

Ade Muhamad Nur yang juga menjabat sebagai Sekjen DPP sekaligus pendiri Perkumpulan Advokat Muslim Indonesia (PERADMI) memaparkan tentang sejarah Hari Raya Idul Fitri, jauh sebelum ajaran Islam turun, masyarakat Jahiliyah Arab ternyata sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan. Kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan menggelar pesta pora. Selain menari-nari, baik tarian perang maupun ketangkasan, mereka juga bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman.

“Nairuz dan Mahrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno?’’ tulis Ensiklopedi Islam. Setelah turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada 2 Hijriyah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.”

Setiap kaum memang memiliki hari raya masing-masing. Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi dan Rasul, mengutip sebuah hadis dari Abdullah bin Amar, ‘’Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ’’Puasanya Nuh adalah satu tahun penuh, kecuali hari Idul Fitri dan Idul Adha’.’’ (HR Ibnu Majah).

Jika merujuk pada hadis di atas, maka umat Nabi Nuh AS pun memiliki hari raya. Sayangnya, kata Ibnu Katsir, hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah itu sanadnya dhaif.  Rasulullah SAW membenarkan bahwa setiap kaum memiliki hari raya. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari,  pernah memarahi dua wanita Anshar memukul rebana sambil bernyanyi-nyanyi. “Pantaskah ada seruling setan di rumah, ya Rasulullah SAW?” cetus Abu Bakar.

“Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar! Karena tiap-tiap kaum mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita,” sabda Rasulullah SAW.

“Hari Raya Idul Fitri untuk pertama kalinya dirayakan umat Islam, selepas Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijiriyah. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 319 kaum Muslimin harus berhadapan dengan 1.000 tentara dari kaum kafir Quraisy,” papar Ade Muhamad Nur yang aktif dan sangat disegani itu, menjabat di berbagai organisasi masyarakat seperti di Markas Besar Laskar Merah Putih Perjuangan (Mabes LMPP) sebagai Sekretaris Jenderal sekaligus Pendiri, sebagai Ketua Front Pemuda Muslim Maluku DPD Jakarta Timur dan juga sebagai Panglima Syarekat Islam.

Pada tahun itu, Rasulullah SAW dan para sahabat merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan kaum kafir dalam Perang Badar dan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa. Menurut sebuah riwayat, Nabi SAW dan para sahabat menunaikan shalat Ied pertama dengan kondisi luka-luka yang masih belum pulih akibat Perang Badar. Rasulullah SAW pun dalam sebuah riwayat disebutkan, merayakan Hari Raya Idul Fitri pertama dalam kondisi letih. Sampai-sampai Nabi SAW bersandar pada Bilal RA dan menyampaikan khutbahnya.

Lebih lanjut Ade Muhamad Nur menceritakan, menurut Hafizh Ibnu Katsir, pada Hari Raya Idul Fitri yang pertama, Rasulullah SAW pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan menunaikan shalat Ied di atas lapang itu. Sejak itulah, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunaikan shalat Ied di lapangan terbuka. Sebelum datangnya  Hari Raya Idul Fitri, umat Islam diwajibkan menunaikan zakat fitrah. Tepat pada 1 Syawal, kaum Muslim disunahkan melaksanakan shalat Ied, baik di lapangan terbuka maupun di masjid, sebanyak dua rakaat dan kemudian dilanjutkan dengan khutbah.

“Idul Fitri telah dilakukan kaum Muslimin mulai sejak tahun 02 hijriah, namun di tahun 1441 hijriah atau tahun 2020 masehi sekarang ini, kita tidak melaksanakan sholat Ied di tanah lapang dan suatu sejarah bagi anak-cucu kita nanti dan ini menjadi keprihatinan bersama dan air mata ini tertumpah dengan menunduk berserah diri kepada Allah Subhanana Wa Taala dan mengharap keridhoan-NYA lah kita tidak bisa berjama’ah melaksanakan sholat Ied serta silaturrahmi,” ujar Ade Muhamad Nur sambil menghela nafas dan tak terasa matanyapun menitikkan air mata.

Di setiap wilayah atau daerah, umat Islam memiliki tradisi masing-masing untuk merayakan dan mengisi hari raya itu. Bahkan, di setiap daerah dan Negara, umat Islam memiliki istilah sendiri untuk menyebut Idul Fitri seperti lebaran. Sejatinya, hakikat Idul Fitri adalah perayaan kemenangan iman dan ilmu atas nafsu di medan jihad Ramadhan.

“Setelah berhasil menundukkan nafsu, kaum Muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan dapat kembali ke fitrah (Idul Fitri), yakni kembali ke asal kejadian. Semoga. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah,” pungkas Ade Muhamad Nur.

MI – 003