Jakarta (MI) ~ Tragedi kemanusiaan terjadi lagi, berita viral dugaan perbudakan dan eksploitasi manusia menimpa Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) yang dilarung (menghanyutkan – dari kamus bahasa Indonesia KBBI) ke laut lepas.

Hal ini membuat Markas Besar (Mabes) Laskar Merah Putih Perjuangan (LMPP) geram dan mengecam tindakan yang dilakukan pemilik kapal Long Xin 629 berbendera China yang terjadi pada 6 Mei 2020, peristiwa tragis menimpa anak bangsa yang bekerja di kapal nelayan itu jelas melanggar norma ketenagakerjaan, khususnya perlindungan pekerja migran Indonesia.

Ade Muhamad Nur, SH.MH selaku Sekretaris Jenderal (Sekjen) Mabes LMPP mengutuk keras peristiwa tersebut, dan akan direncanakan bila diperlukan akan mendemo Kedutaan Besar China di Jakarta. Dimana sedang diselidiki oleh pihak Kementerian Tenaga Kerja RI dengan melakukan investigasi pada aspek-aspek ketenagakerjaan.

“Saya sangat mengutuk dengan peristiwa pelarungan ABK WNI ke tengah laut itu, jika perlu kami akan mendemo Kedubes China di Jakarta. Apalagi jenis-jenis pelanggaran itu bisa menyangkut kepada antara lain perizinan ketenagakerjaan, syarat kerja dan izin hubungan kerja, terjadinya kerja paksa dan kekerasan di tempat kerja, trafficking, hingga sarana keselamatan dan kesehatan kerja atau K-3,” tegas Ade Muhamad Nur.

Sekjen Mabes LMPP kelahiran Maluku itu lebih lanjut kepada wartawan Koran Metro Indonesia Online mengatakan, perbuatan tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena sudah melanggar Hak Asasi Manuasia (HAM) dan melanggar hukum kemanusiaan.

“Pemerintah harus segera membawanya ke Indonesia untuk dikebumikan sesuai dengan regulasi hukum laut, ini tragedi kemanusiaan yang selama ini tidak pernah mengemuka dan jangan sampai terulang lagi bagi warga Indonesia yang bekerja di kapal asing,” pungkas Ade Muhamad Nur yang juga pendiri LMPP.

MI – 003