TATKALA GHIROH BELA ISLAM MELEKAT PADA ANAK MUDA MUSLIM DARI KOTA MEDAN SUMATERA UTARA

Ghiroh 112 menambah catatan baru bagi saya akan dahsyatnya energy yang ditimbulkan sehingga membuat saya tergerak untuk berbagi kisah disalah satu kisah yang berserakan ditengah aksi tersebut yang menurut saya sangat inspiratif dengan bahan kisah yang minim yang saya dapatkan dilokasi aksi namun menurut saya ini bagian dari energy Ghiroh yang Maha Dahsyat.

Izinkan saya menorehkan paparan pengalaman saya dalam Aksi Bela Islam 112,

Ghiroh 212 begitu membuat semua hati muslim Indonesia menyatu dalam kesyahduan terhadap tinggi nya kecintaan akan nilai nilai keIslaman. Penistaan terhadap Surat Al Maidah ayat 51 seakan membangunkan macan yang sedang tidur dengan kemarahan yang amat sangat.

Ghiroh 212 terus menggelora secara massive sampai terbentuknya Aksi Bela Islam 112 adalah bagian dari bentuk ekspresi kemarahan umat muslim seluruh Indonesia yang marah dengan di nistakannya kitab  suci Al-Quran ditambah lagi dengan penghinaan terhadap Ulama yang menambah daftar luka dihati seluruh umat muslim Indonesia. Namun kemarahan dan luka tersebut disalurkan secara konstitusi terhadap Pemerintah.

Dibalik itu semua banyak sekali kisah kisah inspiratif yang menambah energy Ghiroh itu sendiri muncul dari setiap individu umat yang ada pada setiap Aksi Bela Islam yang digelar, baik pada Aksi Bela Islam 411, 212 dan 112 yang muncul bukan karena rekayasa pribadi pada setiap kisahnya, itu semua muncul dari energy yang Maha Dahsyat yang di miliki Sang Khaliq yang di kenal dengan Ghiroh pada hati setiap muslim yang Di kehendaki Nya.

Sepenggal kisah yang unik muncul  dari Barat nya Indonesia, yaitu Kota Medan – Sumatera Utara. Dalam Aksi Bela Islam 112 kemarin. 3 anak muda Kota Medan mengamati Aksi Bela Islam 212 yang lalu, dengan sudut pandangnya yang sesuai dengan usia mereka. Tatkala Aksi Bela Islam 212 itu berlangsung, ada kisah inspiratif yang menggelitik hati sekelompok anak -anak muda ini. Yaitu Aksi jalan kaki yang dilakukan saudara mereka dari Ciamis yang begitu mengusik hati mereka untuk memaknai nya dalam arti yang sangat sederhana bagi pola pikir mereka sebagai anak muda, yaitu “cara bela Quran dan Islam yang telah dihinakan” sesuai kemampuan masing masing dari setiap individu kaum muslim.

Menurut mereka, saudara saudara kami dari Ciamis menempuh cara yang sangat berat dan gentle yang tidak mungkin mereka lakukan jika hati tidak tergerak, itu gumaman mereka setiap saat mengingat kejadian tersebut.

Aksi Bela Islam 212 pun berlalu, namun pikiran akan perjuangan hati yang dilakukan saudara semuslim dari Ciamis itu tidak pernah bisa hilang dari pikiran sekelompok anak muda ini hingga akhirnya tiba saatnya Aksi Bela Islam 112 ini akan digelar. Tanpa disadari, energy Ghiroh tersebut makin mendesak dan menyesakkan setiap dada mereka hingga hati mereka pun tergerak untuk focus bisa ada dan hadir dalam Aksi Bela Islam 112 dalam keadaan apapun yang mereka hadapi.

Mereka bersepakat untuk berangkat ke Jakarta dengan keadaan apapun. Namun tidak mulus untuk bisa berada di Jakarta, mereka adalah alumni disalah satu pesantren di Sumatera Utara, setelah lulus, mereka pun kembali ke keluarga masing masing yang jarak di antara mereka cukup jauh namun masih satu kota dan masih saling komunikasi dengan keadaan ekonomi yang pas pasan.

Hari demi hari sebelumnya, mereka siapkan untuk menuju 112, baik secara keuangan maupun tekad. Disitu ujian mulai terjadi kepada mereka yang masing masing usia nya tidak lebih dari 25 tahun, dari semangat yang turun naik hingga keadaan keuangan mereka masing masing. Akhirnya sampai pada waktu yang disepakati untuk mereka berangkat ke Jakarta. Namun tidak sampai disitu ujian mereka selesai, ujian yang lebih beratpun menghadang didepan mereka.

Dari ketiga anak muda tersebut, ada salah satu adiknya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama diam diam mengamati kakak beserta sahabat sahabatnya yang selalu membahas soal luar biasanya saudara semuslim dari Ciamis. Ternyata Ghiroh tersebut melekat pula pada adiknya tersebut bersama sahabat nya di sekolah.

Adik tersebut mencoba memberanikan diri untuk meminta kakaknya mengizinkan dirinya ikut serta ke Jakarta dengan semangat yang sama. Tersentak sang kakak yang tidak menyangka adiknya begitu tergerak hatinya untuk Bela Quran, Bela Islam dan Bela Ulama mereka.

Kejadian ini pun di sampaikan sang kakak kepada kedua sahabat nya untuk mencarikan solusi agar mereka ber lima bisa berangkat ke Jakarta. Setelah berdiskusi akhirnya mereka bisa melihat bahwa kendala nya ada pada sisi keuangan mereka jika mereka paksakan ber lima berangkat. Akhirnya diputuskan salah satu sahabatnya merelakan motornya di jual sebagai salah satu sumber dana yang ada pada saat ini. Dibenak hati mereka “ini keinginan Allah untuk menempuh Jakarta dengan mengorbankan harta salah satu sahabat mereka”. Sahabatnya pun benar benar merelakan motornya dijadikan sumber dana tambahan agar mereka bisa berangkat bersama.

Setelah semuanya telah siap, mereka pun mencari rental mobil untuk mereka, namun tidak mungkin mereka rental dari Kota Medan ke Jakarta, pastinya sangat mahal, Akhirnya mereka menempuh jalur darat dengan bis. Perjalananpun dimulai.

Setelah sampai Pekanbaru – Riau, sebuah kota dan tempat yang selama ini mereka tidak pernah kunjungi, mereka pun bermalam dan sambil mencari rental kendaraan. Dua hari mereka sibuk kesana kemari dengan di iringi zikir dan doa, mencari rental kendaraan yang bisa membawa mereka ke Jakarta dengan berkeyakinan bahwa Allah bersama mereka. Subhanallah..Allah ternyata tidak tidur, Allah melihat dan mendengar niat tulus mereka untuk Bela AgamaNya, Bela Kitab SuciNya dan Bela UlamaNya dengan cara mereka.

Akhirnya harapan tersebut terwujud, bahwa ada sebuah kendaraan yang mau disewakan untuk menuju Jakarta. Sang sopir mengatakan bahwa sebenarnya kendaraan tersebut tidak ingin direntalkan pada hari tersebut, namun dengan melihat semangat yang dipancarkan anak anak muda ini maka sang sopirpun tergerak hatinya untuk memudahkan urusan mereka sampai ke Jakarta bertemu dengan jutaan saudara saudara semuslim mereka. Sang sopirpun memberi kemudahan bagi mereka dengan membayar ongkos semampu mereka.

Mereka pun berangkat hari itu juga menuju Jakarta. Ternyata ujian pun tidak berhenti sampai disitu, dalam perjalanan, merekapun dirazia bersama kendaraan lain dan sang polisipun menganjurkan kendaraan mereka untuk kembali ketempat masing masing namun sang sopir memaparkan bahwa niat mereka adalah positif, syukur Alhamdulillah..Allah gerakkan hati petugas polisi tersebut untuk mengizinkan mereka meneruskan perjalanan mereka dengan negosiasi yang cukup alot.

Setelah sampai Istiqlal Jakarta (21.00 WIB, 10 Februari 2017), tempat acara akan digelar, kendaraan pun masuk kehalaman Istiqlal lewat pintu dekat Gereja Kathedral. Namun karena plat nomor kendaraan mereka dari luar daerah, akhirnya di proses terlebih dahulu oleh petugas keamanan untuk didata dan langsung dipandu oleh Laskar FPI sebagai tamu kehormatan bagi penyelenggara.

Seketika mereka terkesima dengan keadaan yang mereka tidak bayangkan. Pekik Takbir dari ribuan jamaah yang telah dan baru datang bersahutan tiada henti dengan sesekali di kumandangkannya shallawat Nabi yang tanpa terasa air mata haru membasahi pipi mereka. Spontan mereka pun larut dalam keadaan sambil tidak henti hentinya bulu kuduk terbangun dan tetesan haru mengalir deras di mata mereka. Allah Maha Besar gumam mereka, Inikah umat yang Bela Quran, Bela Islam, Bela Ulama yang mereka lihat hanya ada pada Aksi Bela Islam 212 yang ada di televisi, kini kami menyaksikan langsung aura yang ada di sini didepan mata mereka. Allahu Akbar!!!!!!!! Tangis haru pun deras mengalir dimata mereka.

SesampaiIMG-20170211-WA0047nya di dalam, merekapun istirahat sambil memperhatikan sekitar mereka yang khusyu dengan ibadahnya masing2, ada yang berdoa sambil menangis, ada yang zikir khusyu dengan tasbih yang tiada henti berputar dijari jemari mereka para jamaah, ada yang sholat fardhu dengan khitmat dan adapula yang tergelat lemas melepas lelah sambil tetap berzikir dengan tasbih yang mereka bawa. Semua ini adalah sajian pemandangan yang tidak pernah mereka alami di usia mereka yang sangat muda.

Mereka pun akhirnya kelelahan dan mencoba untuk memejamkan mata, namun tidak pernah berhasil karena makin malam makin banyak ketakjuban ketakjuban yang di alami mereka, makin malam makin ramai jamaah yang berdatangan sampai sampai yang didalam tidak bisa keluar dan yang diluar tidak bisa ke dalam. Jamaah berdatangan dari sabang sampai merauke. Tumplek jadi satu dalam kesyahduan cahaya Illahi, gumam mereka. Alllahu Akbar!!!!!

Tiba saatnya sholat Tahajjud di laksanakan. Benar benar khusyu setiap jamaah melaksanakannya sampai tiba sholat subuh. Setelah sholat subuh selesai dilanjutkan dengan tausiyah tausiyah dari para Habaib dan para Ulama serta para Ustadz.

Tiba saatnya Ustadz Arifin Ilham bertausiyah, ustadz yang selama ini mereka lihat dan dengar hanya pada media radio, media TV. Tausiyah zikir dan doa Ustadz Arifin Ilham membuat deras air mata mereka sampai tanpa mereka sadari mata mereka bengkak dan terus dilanjutkan dengan tausiyah tausiyah para alim ulama silih berganti yang semuanya membuat tak henti air mata mereka berlinang.

Habib Rizieq adalah akhir dari tausiyah kepada umat muslim yang hadir pada saat itu. Bak seorang Panglima yang meng instruksikan kepada umat untuk tetap bersatu, bersaudara tidak terpecah belah hingga yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil.

Semangat mereka makin terpompa bahwa ukhuwah itu tidak muncul dengan paksaan, tapi muncul karena Ghirohnya yang akan masuk kepada hati setiap muslim yang di kehendaki Nya, sekali lagi yang di kehendaki Nya.

IMG-20170211-WA0253Setelah acara selesai mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri begitu luar biasanya jumlah umat diluar, yang tadinya menurut mereka penuh sesak hanya di dalam masjid, ternyata diluar lebih dahsyat lagi jumlah kepadatan umat yang hadir. Alllahu Akbar!!!!!

Mereka tidak henti hentinya sujud syukur karena telah diperkenankan oleh Allah sebagai bagian dari umat yang merasakan dahsyatnya Ghiroh yang melekat pada hati mereka. Mereka bersyukur diberi kesempatan sebagai pelaku sejarah fenomena umat ini yang diyakini tidak semua umat muslim seusianya bisa tergerak dan terpanggil hadir disini tanpa kekuatan Ghiroh yang muncul dihati para pribadi muslim. “Ya Allah, Jagalah hati ini agar tidak termasuk orang orang yang takabur atas ke AgunganMu yang kami lihat saat ini di depan mata kami”. Itulah doa mereka yang di ungkapkan kepada saya di akhir pembicaraan kami.

Semoga mereka mendapat balasan dari Allah atas apa yang mereka kerjakan untuk berjalan di jalan Allah dengan caranya mereka tersebut, dengan semangat Ghirohnya tersebut diusia mereka yang jauh lebih muda dari kita semua.

Semoga kisah mereka menjadi suri tauladan bagi kita semua sebagai manfaat untuk keimanan kita kepada Sang Kholiq yang memancarkan dari Ghiroh Nya kepada hati kita semua. Amin. (Helmi / JKT.112).

author
No Response

Leave a reply "TATKALA GHIROH BELA ISLAM MELEKAT PADA ANAK MUDA MUSLIM DARI KOTA MEDAN SUMATERA UTARA"