Air Mata Ibu Pertiwi

No comment 330 views

DOSEN DEKAN. M. SYUKUR MANDAR 20170123_155736AIR MATA IBU PERTIWI

By. Muhammad Syukur Mandar

 

Innalillahi wainnailahi rajiun, belasungkawa atas mati suri semangat juang patriotisme para mujahid bangsa saat ini, Indonesia sedang berada ditengah ancaman neokolonial model baru, ancaman meretas kembali ajaran sesat komunisme, dan ancaman akan runtuhnya (jika islam tidak solid)kekuatan peradaban islam indonesia sebagai suatu peradaban terbesar dalam sejarah Bangsa-Bangsa didunia.

Indonesia adalah negeri para mujahid, para pejuang dimedan laga melawan penjajahan angkara murka, melawan kaum yahudi kolonialis, kaum munafik, (penentang pancasila), PKI dan antek-anteknya, yang saat ini berdiri dan berteriak bah pejuang pancasila. Sangatlah jelas dan terang menderang siapa sesungguhnya musuh Islam dan musuh Indonesia, (PKI & KOLONIALISME) dari sebelum hingga merdeka.

Harus disadari bahwa memerdekakan bangsa ini, tidak sekedar menggunakan bambu runcing semata, melainkan ada dominasi kekuatan lain yaitu doa dan dzikir, para ulama, pimpinan pondok pesantren, para pejuang mujahid Islam lainnya, mereka semua, mulai dari jenderal sudirman hingga, Bung Hatta, mati sahid dimedan juang bukan hanya untuk suatu kemerdekaan secara simbolik, tetapi kemerdekaan secara substansi. Oleh karenanya roh, jiwa dan semangat juang para mujahid akan terus hidup dalam semangat kebangsaan kita.

Bangsa indonesia merdeka dari jajahan, sesungguhnya bukan sekedar untuk mendapatkan pengakuan internasional sebagai suatu negara, melainkan merdeka menjadi satu bangsa yang berperadaban besar, dan harus diakui letak kekuatan utamanya dari peradaban indonesia adalah kekuatan Islam (the real politic Indonesia). sebagai maskot kebudayaan.

Para penggiat negara dan pelaku kekuasaan, termasuk kita semua harus sadari bahwa, adanya pengakuan keberagamaan keindonesiaan akan terus terjaga, terpelihara, tatkala islam Indonesia oleh pemerintah diposisikan sebagai kekuatan kebudayaan besar, sekaligus sebagai basis utama membangun keberagaman keindonesiaan. Ketika islam dianggap intoleran, maka sesungguhnya retaknya keberagaman mulai terjadi. Sebab Islam bukan sekedar pemegang saham mayoritas kebangsaan, melainkan fondasi kekuatan Indonesia ada pada kekuatan islam.

Roh spirit keindonesiaan kita terbentuk dari jiwa patriotisme para pejuang mujahid. Dengan kenyataan keindonesiaan saat ini, sungguh ibu pertiwi menangis menyaksikannya. sangatlah lalai para pemangku kepentingan/pengelola negara dalam menjalankan misi kemerdekaan IBU PERTIWI,. Padahal tugas mereka sangatlah mulia dan mudah, mereka hanya dibebankan melanjutkan dan mengisi kemerdekaan bangsa ini dengan kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jika terus menerus islam dimusuhi, oleh kaum yahudi, nasrani, dan apalagi kaum islam munafikin, dan para ulama tidak mendapatkan tempat selayaknya sebagai kaum yang diteladani, penunjuk jalan kebaikan, sebagaimana pesan rasulullah bahwa akan hancur kaumku, jika mereka kehilangan pemimpin yang teladan. Akibatnya bangsa ini, akan ikut dihancurkan secara perlahan menjadi bangsa yahudi dan bangsa yang tidak beradab, tidak berketuhanan.

Bahwa tanpa kita sadari, realitas kebangsaan saat ini, menggambarkan bahwa distorsi nilai dan komitmen ketauhidan pelaku kekuasaan dan merambah kelapisan strata sosial lainnya, menjadi sumber retaknya cita-cita kemerdekaan dari titohnya. karena kekuasaan ekonomi, politik dan uang telah menghamba, hadir menjadi TUHAN BARU, dalam kehidupan kita, hingga merasuk masuk dalam sistem kenegaraan kita, para pelaku negara mengalami GAGAL PAHAM, dan secara sengaja menempatkan paham-paham sesat (Neoliberalisme & Komunisme), sebagai bagian dari konsesi kebijakan membangun Indonesia.

Disituasi inilah, jasad, jiwa raga ibu pertiwi akan menangis. Mereka para mujahid Bangsa akan sangat sedih melihat situasi kebangsaan kita saat ini. Bangsa ini, dan kita semua saat ini yang ikut saksikan berlangsungnya kenyataan pahitnya perjalanan bangsa indonesia saat ini, patut BERTAUBAT, karena kita bukan sekedar saksi, melainkan pelaku yang menjerumuskan diri kita bahkan anak cucu kita pada jurang kesesatan sejarah sepanjang masa, jika tidak segera kita Bangkit melakukan sesuatu yang menyelamatkan Bangsa ini.

 

Goresan tangan anak Negeri,

Jakarta, 22 Januari 2017.

author
No Response

Leave a reply "Air Mata Ibu Pertiwi"