Rembuk Nasional

287 views

IMG-20170121-WA0090RESOLUSI REMBUK NASIONAL
By : Muhammad Syukur Mandar

Dekan Fakultas Hukum UIC Jakarta

Indonesia ini bangsa besar, bangsa yang tidak miliki mental sebagai budak dan apalagi diperbudak.  Karenanya pemberontakan kita lakukan hingga merdeka, meski dijajah ratusan tahun oleh kolonialisme dan imperialisme.  Tentu sangatlah tidak patut bagi Siapapun untuk kembali menghidupkan budaya penjajahan dalam bentuk apapun, apalagi penjajahan oleh Bangsa sendiri.

Mencermati kondisi kebangsaan kita saat ini, patutlah kita semua prihatin, oleh karena semakin mengkuatirkan kondisi sosial, politik dan ekonominya. Massifnya  tekanan pemerintah pada kebebesan berpendapat, semakin agresifnya perang opini medsos, perang ideologi kelompok, gejala konflik antar kekuatan kelompok organisasi massa, membuat kita seolah menjadi bangsa yang telah hilang jatidiri sebagai Bangsa berbudaya.

Realitas politik ini, menggambarkan bahwa indonesia sungguh berada pada satu siklus politik yang tidak harmonis, tidak sejalan dengan cita-cita kemerdekaan 1945. Adanya problem akut kebangsaan saat ini, terutama terhadap tajamnya tekanan publik pada pemerintahan Jokowi, dan sebaliknya tekanan pemerintah pada kebebesan berpendapat, membuat kita seakan tidak lagi memiliki tokoh-tokoh bangsa yang bertindak sebagai good fathers.

Sumber adanya protes dan tekanan publik adalah adanya ketidakadilan hukum, politik dan ekonomi, selain dominasi kebijakan ekonomi pro pemodal dan asing.  Nawacita sebagai visi besar Presiden JOKOWI, dirasakan oleh banyak pihak tidak BERJALAN sesuai spirit utamanya, yakni tidak berpihak pada kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia, khususnya pada cita ekonomi Indonesia yaitu kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia , dengan prinsip BERDIKARI kokoh berdiri pada kaki sendiri, BERDAULAT, menjaga dan mempertahankan eksistensi kedaulatan NKRI.

Gejala lain yang rmmbahayakan adalah ancaman demokrasi totalitarianisme, demokrasi manopoli pasif akan peran lembaga pengawasan seperti DPR. Pemerintah bekerja sesuai selera, DPR bekerja mengamankan selera kebijakan pemerintah, tanpa menimbang beban dan manfaatnya pada kemaslahatan rakyat dan negara.

Gejala miskebangsaan ini tidak sekedar ancaman pada jati diri bangsa, akan tetapi lebih dari itu, yakni ancaman disharmoni, ancaman ketidakadilan yang bisa berdampak pada gejolak sosial, dan mengganggu kerja-kerja pemerintahan Jokowi JK.  Tentu akibat lain adalah terjadi distabilitas dimana rakyat akan berhadapan-hadapan dengan pemerintah, dan hal semacam itu bukan bentuk atau pola ideal komunikasi yang linier antara negara  dengan rakyat dalam memecahkan masalah kebangsaan kita.

Sebaga Bangsa cerdas, tentu tidak kita inginkan, tragedi mei 1998 kembali terulang.  Bahwa kita semua ingin ada perubahan kearah lebih baik adalah iya.  Tetapi cara membuat dan menghadirkan perubahan akan lebih baik jika melalui dialog kebangsaan.
Hal ini kita perlukan, agar bangsa Ini terus bergerak maju, bukan kembali menjadi  bangsa yang gemar mengulang sejarah.

Kita tentu sangat berharap tokoh-tokoh sekaliber MEGAWATI, SAID AQIL SIRAJ, SAFI’I MAARIF, SURYA PALOH, (pendukung pemerintah) dan deratan tokoh pemerintah (WIRANTO, LUHUT BINSAR PANJAITAN, TITO KARNAVIAN, GATOT NURMANTIO), dapat mempelopori dialog nasional melalui wadah REMBUK NASIONAL, dengan tokoh ummat Islam dan lintas agama, seperti AA GYM, HABIB RIZIEK, ARIFIN ILHAM, BAHCTIAR NASIR, DIN SYAMSUDIN, HAIDAR NASSER, MA’RUF AMIN, DLL, termasuk tokoh lintas agama, sebagai manifestasi kekuatan Bangsa Ini, untuk mendudukan secara baik apa masalah Bangsa ini dan bagaimana cara menghadapinya.

Sebab amatlah kita sedih, jika hanya soal  AHOK, SOAL BERPIHAK PADA BANGSA LAIN, INDONESIA MENJADI BANGSA YANG TERPECAH BELAH.  Dalam situasi ini, renungan sejarah bangsa kita butuhkan, agar dapat menghadirkan sikap bijak dan cermat dalam melakukan hal-hal yang memajukan bangsa ini.  Kemerdekaan indonesia tidak gratis diperoleh, melainkan direbut dengan jiwa raga, tanah tumpah darah Indonesia, dan semua itu jelas anti kolonialisme.

Dalam kerangka itulah, kita sangat memerlukan  adanya  forum REMBUK NASIONAL  sebagai resolusi problematik akut saat ini.  Peran elemen negara,_(pemerintah, akademisi, ulama, tokoh agama) untuk mediasi gagasan, pikiran dan penyatuan visi besar, sangat kita butuhkan.  Kekuatan dari berbagai pihak menyatu , mulai dari kelompok aktifis (power control) , kelompok akademisi (agent of change)  kelompok alim ulama (moral force). dan pemerintah sebagai desision maker. adalah kekuatan utama.

Presiden Jokowi adalah sosok yang saya yakini mampu untuk mempelopori  adanya REMBUK NASIONAL , selain untuk mencari formulasi yang tepat dalam penyelesaian berbagai macam masalah, juga menjadi saluran untuk mencairkan kebuntuan yang terjadi. Dengan dialog inilah berbagai hal dapat kita selesaikan, termasuk hentikan upaya saling menyerang secara ideologi, bentuk kriminalisasi lainnya, dan akan terbangun suatu kehidupan kebangsaan yang sesuai dengan harapan dan cita-cita the faunding fathers.

author
No Response

Comments are closed.